Perkebunan

Menengok Sentra Produksi Kolang Kaling di Kabupaten Sukabumi

×

Menengok Sentra Produksi Kolang Kaling di Kabupaten Sukabumi

Sebarkan artikel ini
Permintaan kolang kaling melonjak saat Ramadhan Pekerja memisahkan buah kolang kaling (Arenga pinnata) dari tangkainya di Desa Banjarsari, Bejen, Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (21/2/2026). Pengolah kolang kaling menuturkan saat bulan Ramadhan permintaan meningkat hingga empat kali lipat dibanding bulan lain, yaitu dari tujuh kuintal per bulan menjadi sekitar tiga ton per bulan, dengan harga Rp12.000 per kilogram. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/rwa.

Datajabar.com | Salah satu tempat produksi kolang kaling di Kabupaten Sukabumi adalah di Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok.

Selain Cisolok, wilayah lain yang menjadi produsen aktif adalah Kecamatan Tegalbuleud (khususnya Desa Bangbayang), dan Kecamatan Nyalindung (Dusun Ciherang, Desa Cijangkar).

Kolang-kaling segar di pasaran dijual dengan harga kisaran Rp13.000 hingga Rp29.800 per kg atau per kemasan tertentu. Namun harganya bisa melambung jika mendekati Ramadan.

Tidak tersedia data spesifik produksi kolang-kaling di Sukabumi di data BPS, namun di Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, warga mampu memproduksi hingga 100 kilogram kolang-kaling per hari.

Hasil produksi dari petani asli Sukabumi ini tidak hanya memenuhi pasar lokal, tetapi juga dikirim dalam jumlah besar ke Jakarta dan daerah sekitarnya, terutama menjelang bulan Ramadan.

Produksi melibatkan perebusan buah aren (caruluk) hingga matang, kemudian dikupas dan ditumbuk agar pipih dan bertekstur kenyal.

Permintaan yang tinggi, terutama saat bulan Ramadan, mendorong pengrajin untuk menambah pekerja agar produksi maksimal, dengan contoh salah satu produsen melibatkan hingga 8 pekerja.

Produksi kolang kaling seringkali bersifat musiman, meningkat drastis menjelang bulan suci Ramadan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan khas tersebut.

Meskipun Sukabumi dikenal dengan berbagai potensi pertanian, produksi kolang-kaling menjadi salah satu ekonomi kreatif berbasis hasil alam yang signifikan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *