Datajabar.com | Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akan memprioritaskan pembangunan mushola atau masjid berukuran kecil di lingkungan masyarakat sebagai upaya memperkuat kehidupan spiritual warga di berbagai daerah.
Kebijakan tersebut disampaikan Dedi Mulyadi saat menghadiri Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah bertema “Menguatkan Cinta Islam dan Islam Cinta” di Masjid Raya Al Jabbar, Kota Bandung.
Menurut Dedi, Jawa Barat saat ini telah memiliki banyak masjid besar dan megah. Karena itu, perhatian pemerintah ke depan akan lebih diarahkan pada pembangunan tempat ibadah yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Kami ingin membangun masjid-masjid kecil di lingkungan masyarakat yang membutuhkannya dalam setiap waktu. Kan kalau masjid-masjid yang megah sudah banyak di Jawa Barat,” kata Dedi dalam keterangan yang diterima, Sabtu (13/6/2026).
Pria yang akrab disapa KDM itu menilai keberadaan mushola lingkungan memiliki peran penting sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat, mulai dari tempat ibadah hingga sarana pendidikan agama bagi anak-anak.
Ia menjelaskan pembangunan mushola akan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak. Menurutnya, pengembangan fasilitas ibadah yang sudah ada lebih efektif dibandingkan membangun struktur kelembagaan baru.
“Kami ingin membangun masjid yang ada jamaahnya, tempat anak-anak ngaji, tempat ibadah rakyat di situ,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi juga menyoroti perubahan fungsi sebagian masjid yang dinilainya mulai bergeser dari pusat spiritualitas menjadi destinasi kunjungan semata.
Menurutnya, esensi masjid seharusnya tetap menjadi tempat umat mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan sekadar lokasi untuk beraktivitas sosial atau berwisata.
“Kalau masjid sarana rekreasi bukan sarana spiritualitas, maka masjid hanya akan menjadi tempat selfie bukan tempat tafakur,” katanya.
Dedi menegaskan bahwa nilai utama ibadah tidak terletak pada kemegahan bangunan, melainkan pada kemampuan seseorang membangun hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Ia menilai ketenangan dan perenungan dapat dilakukan di berbagai tempat selama seseorang mampu menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam dirinya.
“Bertafakur bisa dilakukan di mana saja. Bertafakur di kamar tidur, surau kecil, bawah pohon, tepi sawah, tepi danau, pinggir gunung, tepi samudra. Tempat tak ada makna, yang paling utama adalah keheningan jiwa untuk mampu menghadirkan Tuhan dalam relung jiwa,” pungkasnya.(*)











