Datajabar.com | Setara Institute baru saja meluncurkan hasil riset tahunan mereka yang paling dinanti yakni Indeks Kota Toleran (IKT) 2025.
Di antara deretan nama kota dari seluruh penjuru nusantara, dua kota asal Jawa Barat, yakni Bekasi dan Sukabumi, berhasil menduduki posisi terhormat dalam jajaran sepuluh besar kota paling toleran di Indonesia.
Laporan ini bukan sekadar deretan angka, melainkan potret dinamika kerja sama antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam merawat keberagaman. Dari total 94 kota yang dinilai, Kota Bekasi kokoh di peringkat kelima, disusul ketat oleh Kota Sukabumi di peringkat keenam.
Peluncuran IKT 2025 menjadi ajang apresiasi bagi kota-kota yang konsisten menjaga ruang publik yang inklusif bagi seluruh penganut agama dan kepercayaan.
- Puncak Klasemen: Kota Salatiga di Jawa Tengah kembali menduduki peringkat teratas dengan skor 6,492, diikuti oleh Kota Singkawang di Kalimantan Barat dengan skor 6,391.
- Posisi Jawa Barat: Di tengah persaingan kota-kota di Jawa Tengah yang mendominasi daftar, Kota Bekasi (skor 6,037) dan Kota Sukabumi (skor 5,973) muncul sebagai perwakilan kuat dari Tanah Pasundan yang membuktikan bahwa toleransi bisa tumbuh subur di wilayah urban yang heterogen.
Ketua Badan Pengurus Setara Institute Ismail Hasani menekankan capaian ini adalah kerja kolektif. “Jadi (indeks kota toleran) bukan semata-semata prestasi Walikota atau Kesbangpol atau FKUB tapi adalah prestasi bersama,” ujar Ismail di Mangkuluhur ARTOTEL Suites, Jakarta pada Rabu, 22 April 2026.
Keberhasilan Kota Bekasi dan Kota Sukabumi menembus posisi elit ini tidak terjadi secara kebetulan. Setara Institute menggunakan metode penilaian yang ketat dengan melibatkan empat variabel utama dan delapan indikator sebagai alat ukur.
- Variabel Penentu: Skor yang diraih didasarkan pada variabel regulasi pemerintah kota, variabel regulasi sosial, variabel tindakan pemerintah, dan variabel demografi agama.
- Aksi Nyata: Kota Bekasi dan Kota Sukabumi dinilai mampu menyelaraskan kebijakan birokrasi dengan kebutuhan sosial masyarakatnya, sehingga gesekan antar-kelompok dapat diminimalisir melalui pendekatan hukum dan sosial yang promotif.
Dalam pemaparannya, Ismail Hasani membeberkan tiga kunci utama yang menjadi fondasi bagi sebuah kota untuk bisa disebut sebagai kota toleran. Ketiga unsur ini terlihat berkelindan dalam jalannya pemerintahan di kota-kota yang masuk sepuluh besar.
- Kepemimpinan Politik: Adanya kemauan dari pimpinan politik di tingkat kota untuk mempromosikan nilai-nilai toleransi dalam setiap pidato dan kebijakannya.
- Kepemimpinan Birokrasi: Aparatur sipil negara yang tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan publik kepada seluruh warga tanpa memandang latar belakang keyakinan.
- Kepemimpinan Sosial: Peran aktif tokoh masyarakat, pemuka agama, dan organisasi sipil yang senantiasa menjaga kerukunan di tingkat akar rumput.
“Pertama, memastikan kepemimpinan politik promotif terhadap toleransi. Kedua, kepemimpinan birokrasi. Ketiga, kepemimpinan sosial,” tutur Ismail mengenai rumus tersebut
Berdasarkan data resmi Setara Institute, berikut adalah urutan lengkap sepuluh kota dengan indeks toleransi tertinggi di Indonesia:
- Kota Salatiga (skor 6,492)
- Kota Singkawang (skor 6,391)
- Kota Semarang (skor 6,160)
- Kota Pematangsiantar (skor 6,084)
- Kota Bekasi (skor 6,037)
- Kota Sukabumi (skor 5,973)
- Kota Magelang (skor 5,805)
- Kota Kediri (skor 5,792)
- Kota Tegal (skor 5,733)
- Kota Ambon (skor 5,657).(detik.com)











