Datajabar.com | Kentang menjadi salah satu komoditas hortikultura unggulan di Jawa Barat. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, kentang juga menjadi bahan pangan penting untuk industri makanan, restoran, hingga ekspor.
Daerah pegunungan di Jawa Barat dengan suhu sejuk dan tanah subur menjadi lokasi ideal untuk budidaya umbi ini. Tak heran jika sejumlah kabupaten di wilayah selatan dan tengah provinsi ini dikenal sebagai sentra penghasil kentang.
Dalam laporan opendata.jabarprov.go.id/ tahun 2024, terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara satu daerah dan lainnya. Beberapa kabupaten mampu menghasilkan puluhan hingga ratusan ribu ton per tahun, sementara daerah lain nyaris tak memiliki kontribusi signifikan.
Kondisi ini menggambarkan bagaimana faktor geografis dan tradisi pertanian menjadi kunci utama dalam pengembangan kentang di Jawa Barat.
Berikut adalah daftar daerah penghasil kentang terbesar di Jawa Barat:
1. Kabupaten Garut
Garut menempati posisi teratas sebagai penghasil kentang terbesar di Jawa Barat pada tahun 2024. Dengan total produksi mencapai 190.523 ton, Garut dikenal luas sebagai sentra hortikultura yang produktif di kawasan Priangan Timur. Daerah seperti Cikajang, Cisurupan, dan Samarang menjadi pusat utama penanaman kentang. Suhu dingin pegunungan dan tanah vulkanik yang subur menjadikan Garut sangat cocok untuk tanaman umbi-umbian.
Selain untuk konsumsi domestik, sebagian hasil panen kentang Garut juga dipasok ke pasar industri dan kota besar seperti Bandung serta Jakarta. Petani di wilayah ini umumnya menanam varietas kentang Granola dan Atlantik yang diminati pasar karena ukurannya seragam dan kualitasnya tinggi.
2. Kabupaten Bandung
Kabupaten Bandung menduduki peringkat kedua dengan produksi mencapai 50.200 ton pada tahun 2024. Sentra utama budidaya kentang di wilayah ini terletak di kawasan dataran tinggi seperti Pangalengan dan Ciwidey. Selain teh dan sayuran daun, kentang menjadi komoditas penting yang menopang perekonomian petani lokal.
Pangalengan bahkan dikenal sebagai salah satu wilayah dengan sistem pertanian modern dan terintegrasi, di mana hasil kentang dari sini banyak digunakan untuk bahan baku industri makanan olahan. Pemerintah daerah pun aktif memberikan pelatihan dan akses permodalan bagi petani untuk menjaga produktivitas tetap stabil.
3. Kabupaten Majalengka
Majalengka berada di posisi ketiga dengan total produksi sekitar 6.070 ton kentang pada 2024. Meski bukan wilayah dengan suhu sedingin Garut atau Bandung, beberapa daerah di bagian selatan Majalengka seperti Argapura dan Bantarujeg memiliki lahan tinggi yang cocok untuk pertanian hortikultura.
Potensi Majalengka mulai meningkat seiring pembangunan infrastruktur dan berkembangnya pasar lokal. Produksi kentang di daerah ini banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar sekitar Cirebon dan Indramayu, sekaligus menjadi alternatif komoditas unggulan selain bawang merah dan cabai.
4. Kabupaten Kuningan
Kabupaten Kuningan menempati posisi keempat dengan produksi kentang sebesar 116 ton. Meski tidak sebesar kabupaten lain, Kuningan memiliki potensi lahan di daerah pegunungan sekitar Cigugur dan Subang Kuningan yang cocok untuk pengembangan kentang dataran tinggi.
Budidaya kentang di sini masih bersifat skala kecil dan dilakukan bersamaan dengan tanaman hortikultura lain seperti wortel dan kol. Pemerintah daerah mulai mendorong diversifikasi tanaman untuk meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi ketergantungan pada komoditas tunggal.
5. Kabupaten Cianjur
Cianjur menghasilkan sekitar 160 ton kentang pada tahun 2024. Wilayah seperti Pacet dan Cipanas sebenarnya memiliki iklim yang mendukung untuk tanaman kentang, namun produksi di daerah ini masih terbatas karena lahan banyak dialihkan untuk sayuran daun dan tanaman hias.
Meski demikian, peluang pengembangan kentang di Cianjur tetap terbuka lebar. Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan teknologi pertanian modern, produktivitas bisa ditingkatkan untuk memenuhi permintaan pasar yang terus tumbuh.
Produksi kentang di Jawa Barat menunjukkan ketimpangan antarwilayah yang cukup besar. Garut masih menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi lebih dari separuh total produksi provinsi. Sementara Bandung dan Majalengka mulai memperkuat posisinya melalui peningkatan kapasitas dan inovasi pertanian.
Ke depan, dengan dukungan infrastruktur, riset benih unggul, dan pelatihan petani, potensi pengembangan kentang di Jawa Barat bisa terus meningkat menjadikan provinsi ini tidak hanya lumbung padi, tetapi juga pusat hortikultura unggulan di Indonesia.(jabar.pikiran-rakyat.com)











